Nyampah.
...aku sedih, tauk. Aku gak mau sedih. Tapi aku sedih. Kamu jahat.
..friends in solitude
2007-07-25
2007-07-18
TIDAK USAH REPOT-REPOT UNTUK MENCOBA MEMAHAMI PIKIRAN SEORANG PEREMPUAN #02
081860xxxx
Jema : “Halo, Ar”
Ario : “Hey, Ma. Lemes amat?”
Jema : “Iya, nih. Ibarat kata Rossa: tak ada gairah”
Ario : “Kenapa, babe? Si Heumh ya?”
Jema : “He’s missing”
Ario : “Missing? Maksudnya?”
Jema : “Ga ada kabar berita hari ini”
Ario : “Jangan-jangan loe udah kesengsem sama dia?”
Jema : “Ga taulah..”
Ario : “Darling.. He’s not even your type!”
Jema : “I know. But there are things that more important than small eyes and
dark skin”
Ario : “Misalnya?”
Jema : “His point of view”
Ario : “Ini bukan Jema yang gue kenal. Kenapa loe bisa begini?”
Jema : “Mungkin gue menjadi lebih dewasa, Ar?”
Ario : “Atau mungkin loe cuma jatuh cinta”
Jema : “Nggak. Nggak. Gue nggak berani bilang gue jatuh cinta”
Ario : “Nah lantas? Kalau jadi galau karena ga ada kabar berita begini apa
namanya?”
Jema : “Mungkin gue sekedar kangen aja sama dia”
Ario : “Bukannya kalau kangen itu pertanda orang jatuh cinta ya?”
Jema : “Belum tentu”
Ario : “Kalian kaum hawa memang sulit dimengerti. Complicated”
Jema : “Awalnya mungkin perempuan tampak complicated. Tapi pas
perempuan sudah mulai bikin situasi gampang dimengerti, justru si
laki-laki yang biasanya bikin keadaan jadi complicated”
Ario : “Nah kan, rumit. Ketemuan aja, yuk. Kita curhat”
Jema : “Nggak ah. Gue lagi ga mau curhat”
Ario : “Lah terus?”
Jema : “I’ll try to figure everything out by myself”
Ario : “Dasar perempuan. Aneh”
Jema : “Bye, darling”
Ario : “Bye”.
Klik.
081860xxxx
Jema : “Halo, Ar”
Ario : “Hey, Ma. Lemes amat?”
Jema : “Iya, nih. Ibarat kata Rossa: tak ada gairah”
Ario : “Kenapa, babe? Si Heumh ya?”
Jema : “He’s missing”
Ario : “Missing? Maksudnya?”
Jema : “Ga ada kabar berita hari ini”
Ario : “Jangan-jangan loe udah kesengsem sama dia?”
Jema : “Ga taulah..”
Ario : “Darling.. He’s not even your type!”
Jema : “I know. But there are things that more important than small eyes and
dark skin”
Ario : “Misalnya?”
Jema : “His point of view”
Ario : “Ini bukan Jema yang gue kenal. Kenapa loe bisa begini?”
Jema : “Mungkin gue menjadi lebih dewasa, Ar?”
Ario : “Atau mungkin loe cuma jatuh cinta”
Jema : “Nggak. Nggak. Gue nggak berani bilang gue jatuh cinta”
Ario : “Nah lantas? Kalau jadi galau karena ga ada kabar berita begini apa
namanya?”
Jema : “Mungkin gue sekedar kangen aja sama dia”
Ario : “Bukannya kalau kangen itu pertanda orang jatuh cinta ya?”
Jema : “Belum tentu”
Ario : “Kalian kaum hawa memang sulit dimengerti. Complicated”
Jema : “Awalnya mungkin perempuan tampak complicated. Tapi pas
perempuan sudah mulai bikin situasi gampang dimengerti, justru si
laki-laki yang biasanya bikin keadaan jadi complicated”
Ario : “Nah kan, rumit. Ketemuan aja, yuk. Kita curhat”
Jema : “Nggak ah. Gue lagi ga mau curhat”
Ario : “Lah terus?”
Jema : “I’ll try to figure everything out by myself”
Ario : “Dasar perempuan. Aneh”
Jema : “Bye, darling”
Ario : “Bye”.
Klik.
2007-07-10
Someone’s Someone Special
Oh yet another thing to think about. Well, actually don’t have to think about it. But somehow, I make myself keep thinking about it. And I hate the fact that sometimes I enjoy to think about it.
How long, how long?
How much time I have to spend
To finally find out the meanings
Of the little this, of the slight that?
I mean
If I’m not that special, why bother?
Maybe I’m just another project on your schedule.
Thank you to put me in your agenda. But feeling needs more effort than that.
Or maybe I should repeat the words “I don’t hold on to the tail of your kite” - just like Tori Amos – over and over again? Until I can make myself believe in those words. Until I can just pass it by and don’t care about what’s in your mind anymore.
Though I always believe it is normal if everyone sometimes want to be someone’s someone special.
Oh yet another thing to think about. Well, actually don’t have to think about it. But somehow, I make myself keep thinking about it. And I hate the fact that sometimes I enjoy to think about it.
How long, how long?
How much time I have to spend
To finally find out the meanings
Of the little this, of the slight that?
I mean
If I’m not that special, why bother?
Maybe I’m just another project on your schedule.
Thank you to put me in your agenda. But feeling needs more effort than that.
Or maybe I should repeat the words “I don’t hold on to the tail of your kite” - just like Tori Amos – over and over again? Until I can make myself believe in those words. Until I can just pass it by and don’t care about what’s in your mind anymore.
Though I always believe it is normal if everyone sometimes want to be someone’s someone special.
2007-06-26
Hmhmhm
Paling susah memang jujur sama diri sendiri.
Padahal kalau cape, tinggal bilang cape. Gak sanggup, tinggal bilang gak sanggup. Suka, tinggal bilang suka. Kalau gak suka, ya gak usah dijalanin. Kenapa semuanya harus dibikin rumit?
Mungkin memang benar kata seorang teman, aku terlalu mikirin semuanya.
Aku cuma berusaha peduli sebenarnya. Setidaknya pada diriku sendiri.
Paling susah memang jujur sama diri sendiri.
Padahal kalau cape, tinggal bilang cape. Gak sanggup, tinggal bilang gak sanggup. Suka, tinggal bilang suka. Kalau gak suka, ya gak usah dijalanin. Kenapa semuanya harus dibikin rumit?
Mungkin memang benar kata seorang teman, aku terlalu mikirin semuanya.
Aku cuma berusaha peduli sebenarnya. Setidaknya pada diriku sendiri.
2007-06-11
Squirrel Away
Malam ini aku ingin menulis ditemani lagu-lagu dari playlist i-tunes ku. Hanya menulis dan tidak melakukan hal lain. Tidak menonton televisi, tidak bercinta, tidak bergosip di telepon, dan tidak juga tidur.
Menulis, menulis, menulis.
Malam ini aku ingin menulis dan melupakan apa yang kulewati hari ini. Aku tidak ingin mengingat-ingat kalau hari ini aku terlambat datang ke kantor hampir setengah jam, aku tidak ingin mengingat-ingat kalau hari ini aku makan siang bersama seorang teman lama, aku tidak ingin mengingat-ingat kalau hari ini aku melupakan janji dengan dokter gigi, dan terlebih lagi aku tidak ingin mengingat-ingat kalau hari ini aku makin membenci atasanku.
Aku hanya ingin menulis. Sampai puas.
Menulis adalah cara aku menyampaikan perasaanku. Membeberkan pandanganku. Menceritakan kehidupanku. Membagi perhatianku pada sesama. Menulis adalah cara aku memperkenalkan diri pada dunia, atau menyembunyikan diri dari dunia. Dan menulis, adalah caraku mencintai.
Sungguh, kalau semua bisa dituntaskan hanya dengan menulis, pasti aku akan jadi orang yang paling cepat menyelesaikan segala hal.
Satu-satunya hal yang bisa membuatku bergairah tanpa aba-aba dan peringatan, adalah menulis. Aku bisa menulis apa saja yang ku mau, tentang siapa saja. Menulis tentang rumah impian, atau lelaki paling tampan yang pernah kutemui. Semuanya bisa kubumbui sesukaku. Tanpa batasan. Sejauh imajinasiku mampu menerjemahkannya dalam kata-kata. Oh! Hanya dengan membayangkannya saja aku sudah dipenuhi sensasi menyenangkan.
Menulis itu sensasional, eksotis, dan penuh misteri.
Orang bisa saja percaya tulisan fiksiku adalah kisah nyata, atau cerita yang sungguh terjadi adalah karangan belaka. Dan itu menyenangkan. Karena aku bisa mengubah diriku menjadi siapa saja yang aku mau lewat tulisanku. Agar orang lain tak tahu perasaanku sesungguhnya. Itu bagus ketika aku hanya ingin dibiarkan sendiri. Dan aku menikmati ketika kubiarkan orang menerka-nerka isi hatiku sampai mereka jenuh dan tidak lagi menjadi orang sok tahu.
Jadi, malam ini aku hanya ingin menulis: Aku ingin bersembunyi dalam serakan kata-kata dan tidak lagi membiarkan diriku terbaca.
Malam ini aku ingin menulis ditemani lagu-lagu dari playlist i-tunes ku. Hanya menulis dan tidak melakukan hal lain. Tidak menonton televisi, tidak bercinta, tidak bergosip di telepon, dan tidak juga tidur.
Menulis, menulis, menulis.
Malam ini aku ingin menulis dan melupakan apa yang kulewati hari ini. Aku tidak ingin mengingat-ingat kalau hari ini aku terlambat datang ke kantor hampir setengah jam, aku tidak ingin mengingat-ingat kalau hari ini aku makan siang bersama seorang teman lama, aku tidak ingin mengingat-ingat kalau hari ini aku melupakan janji dengan dokter gigi, dan terlebih lagi aku tidak ingin mengingat-ingat kalau hari ini aku makin membenci atasanku.
Aku hanya ingin menulis. Sampai puas.
Menulis adalah cara aku menyampaikan perasaanku. Membeberkan pandanganku. Menceritakan kehidupanku. Membagi perhatianku pada sesama. Menulis adalah cara aku memperkenalkan diri pada dunia, atau menyembunyikan diri dari dunia. Dan menulis, adalah caraku mencintai.
Sungguh, kalau semua bisa dituntaskan hanya dengan menulis, pasti aku akan jadi orang yang paling cepat menyelesaikan segala hal.
Satu-satunya hal yang bisa membuatku bergairah tanpa aba-aba dan peringatan, adalah menulis. Aku bisa menulis apa saja yang ku mau, tentang siapa saja. Menulis tentang rumah impian, atau lelaki paling tampan yang pernah kutemui. Semuanya bisa kubumbui sesukaku. Tanpa batasan. Sejauh imajinasiku mampu menerjemahkannya dalam kata-kata. Oh! Hanya dengan membayangkannya saja aku sudah dipenuhi sensasi menyenangkan.
Menulis itu sensasional, eksotis, dan penuh misteri.
Orang bisa saja percaya tulisan fiksiku adalah kisah nyata, atau cerita yang sungguh terjadi adalah karangan belaka. Dan itu menyenangkan. Karena aku bisa mengubah diriku menjadi siapa saja yang aku mau lewat tulisanku. Agar orang lain tak tahu perasaanku sesungguhnya. Itu bagus ketika aku hanya ingin dibiarkan sendiri. Dan aku menikmati ketika kubiarkan orang menerka-nerka isi hatiku sampai mereka jenuh dan tidak lagi menjadi orang sok tahu.
Jadi, malam ini aku hanya ingin menulis: Aku ingin bersembunyi dalam serakan kata-kata dan tidak lagi membiarkan diriku terbaca.
2007-06-04
Relapse eps. 1
What if I call you at this very moment and say "I miss you"?
Will you smile? Or instead you're just giving me the look that say, "See, I always know you cannot live without me"?
I miss the way you look in that dark gray suit, that off-white shirt, and a matching tie I picked for you. I know how to dress a man so that he looks stunning. But you too have a nice body *and a sexy behind, I must admit* so that you'll always look good in almost everything. Except that fade black t-shirt I hate.
I often hate the picture of you smiling. Because in some ways, it puts a little pain inside of me. But I love your smile that matched those pretty little eyes. And I hate the thought to have that smile again, just for me.
I remember our little laughs. Your arms around me. Your fingers running through my hair. And a hug that always make me feels good.
I'm torturing myself right now. And if you read this, I know you'll be smiling. A winner's smile, I bet.
Oh, shees *sigh*. Maybe you'll always stay in my heart. But I'm not sorry for my decisions. I'll be just fine without you, I've convinced myself over and over again.
Maybe I'm just missing a man with a nice body *perhaps a sexy behind too, if I'm lucky* in a dark gray suit, off-white shirt, and a matching tie, with a smile that matched his pretty small eyes - and not missing you in particular.
What if I call you at this very moment and say "I miss you"?
Will you smile? Or instead you're just giving me the look that say, "See, I always know you cannot live without me"?
I miss the way you look in that dark gray suit, that off-white shirt, and a matching tie I picked for you. I know how to dress a man so that he looks stunning. But you too have a nice body *and a sexy behind, I must admit* so that you'll always look good in almost everything. Except that fade black t-shirt I hate.
I often hate the picture of you smiling. Because in some ways, it puts a little pain inside of me. But I love your smile that matched those pretty little eyes. And I hate the thought to have that smile again, just for me.
I remember our little laughs. Your arms around me. Your fingers running through my hair. And a hug that always make me feels good.
I'm torturing myself right now. And if you read this, I know you'll be smiling. A winner's smile, I bet.
Oh, shees *sigh*. Maybe you'll always stay in my heart. But I'm not sorry for my decisions. I'll be just fine without you, I've convinced myself over and over again.
Maybe I'm just missing a man with a nice body *perhaps a sexy behind too, if I'm lucky* in a dark gray suit, off-white shirt, and a matching tie, with a smile that matched his pretty small eyes - and not missing you in particular.
2007-05-23
For Now, It Still Ends in U
Rindu rindu rindu rindu.
Kalau kamu memang merindukanku lalu mengapa kamu masih disana. Jauh di seberang lautan. Bukannya berlari menghampiriku. Atau berenang. Atau lebih simpel lagi, terbang. Naik pesawat, tentunya. Bukan terbang dengan baling-baling bambu.
Bagaimana aku bisa percaya kata-katamu kalau semua kata-kata tidak romantis tapi sarat makna itu hanya berani kamu sampaikan lewat pesan-pesan singkat di handphoneku?
Dan kamu selalu bilang rindu. Tapi lalu apa? Rindumu hanya sebuah kata. Menggantung begitu saja. Berawal di huruf R dan berakhir di huruf U.
Itu menyebalkan buatku, tahu!
Kamu bilang kamu begitu karena aku juga begini. Kamu bilang aku tak pernah membalas rindumu. Meski cuma lewat pesan singkat di handphonemu. Kamu bilang kamu juga sebal padaku karena aku menggantungkan kata rindumu, hingga kamu tak pernah berani mengungkapkan rindumu labih jauh. Cukup sampai pada sebuah kata yang diawali huruf R dan diakhiri huruf U.
Aku sih sebenarnya bisa saja membalas rindumu. Tapi masalahnya adalah, apakah aku mau atau tidak. Mungkin, hanya mungkin, kalau kamu mau mencoba sedikit lebih keras lagi. Barangkali, aku akan membalas rindumu. Kalau kamu membuktikan lebih dari ini, bisa jadi akupun dapat lebih dari sekedar membalas rindumu.
Tapi kamu minta jaminan kalau kamu melakukan lebih, akupun akan melakukan lebih. Aku pikir, aku tidak bisa begitu. Aku bilang, kita lihat saja nanti.
Kamu diam. Lalu berkata padakau. Kalau begini terus, bagaimana kita bisa melanjutkan ini?
Aku diam. Aku tidak mau menjawab. Karena diam-diam hatiku bertanya:’Memangnya aku mau melanjutkan ini?’.
Jadi kurasa, saat ini kita – aku dan kamu – harus cukup sabar dulu dengan rindu yang hanya berawal di huruf R dan berakhir di huruf U.
Rindu rindu rindu rindu.
Kalau kamu memang merindukanku lalu mengapa kamu masih disana. Jauh di seberang lautan. Bukannya berlari menghampiriku. Atau berenang. Atau lebih simpel lagi, terbang. Naik pesawat, tentunya. Bukan terbang dengan baling-baling bambu.
Bagaimana aku bisa percaya kata-katamu kalau semua kata-kata tidak romantis tapi sarat makna itu hanya berani kamu sampaikan lewat pesan-pesan singkat di handphoneku?
Dan kamu selalu bilang rindu. Tapi lalu apa? Rindumu hanya sebuah kata. Menggantung begitu saja. Berawal di huruf R dan berakhir di huruf U.
Itu menyebalkan buatku, tahu!
Kamu bilang kamu begitu karena aku juga begini. Kamu bilang aku tak pernah membalas rindumu. Meski cuma lewat pesan singkat di handphonemu. Kamu bilang kamu juga sebal padaku karena aku menggantungkan kata rindumu, hingga kamu tak pernah berani mengungkapkan rindumu labih jauh. Cukup sampai pada sebuah kata yang diawali huruf R dan diakhiri huruf U.
Aku sih sebenarnya bisa saja membalas rindumu. Tapi masalahnya adalah, apakah aku mau atau tidak. Mungkin, hanya mungkin, kalau kamu mau mencoba sedikit lebih keras lagi. Barangkali, aku akan membalas rindumu. Kalau kamu membuktikan lebih dari ini, bisa jadi akupun dapat lebih dari sekedar membalas rindumu.
Tapi kamu minta jaminan kalau kamu melakukan lebih, akupun akan melakukan lebih. Aku pikir, aku tidak bisa begitu. Aku bilang, kita lihat saja nanti.
Kamu diam. Lalu berkata padakau. Kalau begini terus, bagaimana kita bisa melanjutkan ini?
Aku diam. Aku tidak mau menjawab. Karena diam-diam hatiku bertanya:’Memangnya aku mau melanjutkan ini?’.
Jadi kurasa, saat ini kita – aku dan kamu – harus cukup sabar dulu dengan rindu yang hanya berawal di huruf R dan berakhir di huruf U.
2007-03-29
Secret Admirer
I’m almost twenty five and I marvel at someone furtively.
Jaman menjadi pengagum rahasia, atau bahasa kerennya: secret admirer, terakhir kualami satu dekade lalu. Masa-masa berseragam putih biru, diam-diam naksir kakak kelas yang ganteng, pintar dan populer tanpa berani menunjukan apalagi mengungkapkan perasaan itu pada sang idola. Paling banter hanya mampu curhat pada sahabat dan blushing setengah mati lalu cengar-cengir ketika berpapasan dengannya. Tapi rasanya sakit ketika idolaku itu tiba-tiba jadian dengan perempuan lain tanpa sempat kutunjukan kalau aku menyukainya. Rasa sesal, kecewa, dan patah hati jadi satu. Dan perasaan itu sangat menyiksa. Maka semenjak saat itu aku berikrar, tidak akan pernah lagi jadi secret admirer. Kalau memang suka, setidaknya harus berani menunjukan.
Sepuluh tahun semenjak masa itu, aku tak lagi terlalu malu untuk menunjukan perhatian pada orang yang kusukai, dan tak jarang juga perhatianku berbalas. Atau paling nggak, bisa bertegur sapa dan berteman. Tapi kejadian pagi itu mengubah segalanya. Ada yang berbeda ketika kubuka account friendsterku dan melihat ke bagian who’s viewed me. Ada Ramadhansyah disana. Ramadhansyah, atau Rama, seniorku jaman kuliah, melihat profileku. Kenapa, ya?
Itu pertanyaan yang pertama kali muncul. Aku dan Rama tidak terlalu akrab saat kuliah. Kami kenal di presidium fakultas dan hanya ngobrol saat rapat saja, itupun basa-basi seperlunya. Aku tidak pernah berniat untuk terlalu berakrab-akrab dengannya. He’s out of my league. Rama seingatku adalah mahasiswa yang luar biasa cerdas dengan IPK nyaris empat, sementara aku cuma mahasiswi biasa-biasa saja dengan IPK yang standar-standar saja juga. Dan satu hal yang membuatku tidak terlalu tertarik untuk banyak ngobrol dengannya adalah sifat idealis dan perfeksionisnya. Setiap kalimatnya, menurutku, terdengar kaku dan tampak disusun baik-baik sebelum diucapkan.
Iseng ku klik namanya dan masuklah aku ke profilenya. Hey, hey. Ada perasaan aneh saat aku melihat primary picturenya. Tampak samping dengan rambut berantakan, memakai sweater bertuliskan Middlesex University, tampak sedang mengerjakan sesuatu di depan komputer. Mukanya serius, but I have to admit he’s kinda cute in that picture. Dan kacamata half frame yang dia pakai membuat wajahnya makin terlihat cerdas. Hum, I love cute guys that looks smart. And all the sudden, I feel butterflies I my stomach. Did I just blush? Kugelengkan kepalaku.
Sadar Sya, kamu ga mungkin naksir laki-laki ini hanya karena melihat fotonya.
Lalu aku nyengir, still with the butterflies in my stomach. Oh no, blushing lalu cengar-cengir? Kugelengkan lagi kepalaku kuat-kuat dan menutup profile Rama.
Entah kenapa seharian tadi aku malah kepikiran terus Rama. Kenapa Rama melihat profileku?
Iseng aja kali, Sya. No special intention.
Berulang-ulang kuingatkan diriku untuk gak GR. Tapi makin lama kepenasaranku malah bertambah. Malam harinya kubuka kembali account friendsterku dan kembali masuk ke profile Rama. Melihat primary picture nya masih memberikan sensasi yang sama seperti yang kurasakan tadi pagi. Iseng ku baca profilenya. Hanya sekedar ingin tau keadaan dan keberadaan bapak yang satu itu saat ini. Hmmm, rupanya dia sekarang sedang mengambil gelar master di Middlesex University, Inggris (that explains the sweater). Yes, he’s so out of my league. Dari barisan kata-kata yang dia tulis di profilenya aku melihat perubahan di diri Rama. Kalimat-kalimatnya terlihat lebih santai dan ‘ramah’, meskipun tetap terlihat cerdas. Berbeda dengan kalimat-kalimat yang biasa dia ucapkan di masa kuliah dulu. Dan aku makin mengagumi Rama. Lalu aku blushing lagi, dilanjutkan dengan cengar-cengir lagi. Ahhh, ini sinting!
Asya, this is you’re consciousness speaking. Kamu gak boleh fall for this guy. Pertama, he’s way out of your league. Far beyond your league. Kedua, secara teknis dia hanya eksis di dunia maya. Well, oke kalian pernah saling mengenal. Tapi hanya selintas saja. Dan kecil kemungkinan dia masih ingat Asya Larasati itu yang mana. Soal kenapa dia melihat profile kamu, jangan terlalu hiperbolis. Iseng. Itu jawaban paling logis untuk kepenasaran dan ke GR-an mu yang berlebihan.
Aku menghela nafas. Yeah, ga usah terlalu dibesar-besarkan.
Semenjak perdebatan dengan suara hati tempo hari, aku bukannya melupakan Rama. Tapi kepenasaranku makin hari makin menggila. Aku tiap hari membuka profilenya. Membaca testimonial-testimonial untuknya. Merasa cemburu ketika ada perempuan yang memberi komentar yang bernada akrab untuknya, dan makin jatuh cinta setiap melihat foto-fotonya. Belum lagi ketika aku membaca blognya. Cerita-ceritanya tentang kuliah dan kesehariannya membuat aku makin ingin terlibat dalam kehidupannya. Sekali lagi, ini sinting. Aku memang selama ini berharap menemukan lelaki cerdas, tapi jatuh cinta pada seseorang yang ada di ujung lain dunia dan terlebih lagi kemungkinan besar tidak ingat siapa diriku benar-benar tidak masuk akal. Parahnya, aku kembali ke masa sepuluh tahun lalu. Masa-masa menjadi secret admirer. Hanya berani mencintai dari jauh. Pernah aku memaksa memberanikan diri menyapa Rama lewat message. Tapi lalu kubatalkan. Entah kenapa aku merasa tak pantas untuk Rama. Apalagi tampaknya sekarang Rama punya teman-teman baru yang sama pintarnya dan mereka semua sedang mengambil S2 di luar negeri. Sementara aku masih mencoba meniti karir di ibukota berbekal gelar S1 tanpa ada rencana pasti kapan mau melanjutkan sekolah. Aku juga takut Rama tidak mempedulikan message ku dan tidak pernah membalas message ku sampai kapanpun. Itu yang membuatku sangat takut untuk membuat kontak duluan dengan Rama. Pendeknya, aku kembali merasakan perasaan jaman SMP dulu.
Delapan hari berlalu semenjak aku jatuh cinta pada Rama. Baru delapan hari, sih. Tapi rasanya sudah sangat menyiksa. Cinta bertepuk sebelah tangan masih mending. Ini jatuh cinta tanpa tahu apakah cintanya berbalas atau tidak. Plus, tak ada keberanian untuk mencari tahu jawabannya. Aku teringat janjiku untuk tidak lagi menjadi secret admirer.
Tapi ini berbeda..
Apa bedanya?
Dia jauh di luar jangkauanku..
Dulu juga waktu SMP kamu merasakan hal yang persis sama kan?
Iya sih, tapi..
Tinggal sapa dia. Kalau dia tidak membalas, berarti dia tidak tertarik. Kalau membalas, mungkin dia memang suka juga padamu, atau pahit-pahitnya kalian bisa berteman.
…
Ayo Asya, jangan berfikir terlalu lama. Kamu akan makin tersiksa.
…
Daripada besok kamu membuka profilenya dan statusnya sudah berubah menjadi In A Relationship tanpa kamu pernah berani menyapanya?
Aaaarghh! Baiklah.
Suara hatiku memang kadang-kadang plinplan. Tempo hari dia mati-matian melarangku untuk tertarik lebih jauh pada Rama, tapi hari ini dia malah memaksaku menuntaskan kepenasaran. Dan kalau sudah terlibat perdebatan dengan suara hati, seperti biasa, aku pasti kalah.
Kubuka account friendsterku dan bersiap menulis message untuk Rama. Tapi icon new message menyala, artinya ada pesan baru untukku. Ku klik icon itu. Apa yang kutemukan di inbox membuatku merasa terkena serangan stroke ringan. Ku klik di bagian subject pesan dan muncullah barisan kalimat yang buatku seperti puisi paling indah yang pernah kubaca.
From: Ramadhansyah Maulana
Subject: hi, there!
Message:
Hai hai..
Seminggu lalu gue iseng liat-liat friendlist gue dan menemukan nama Asya disana. Jujur, gue agak lupa ini Asya siapa. Hehe. Terus iseng gue klik, baru deh gue inget kalau loe junior gue pas S1 dulu. Your profile is interesting, Sya. Tapi lagi-lagi gue harus jujur, I don’t remember much about you. Hehe. So, can we start all over again?
Oke dimulai dengan:
Halo, gue Rama. Sejurusan sama loe waktu S1, tapi gue setaun diatas loe. Sekarang gue lagi ambil master komunikasi di Inggris.
Well, it’s now your turn to tell me about yourself. Dan setelah itu semoga kita bisa banyak berbagi cerita. Write me back ya.
Rama.
Hmmm. Jadi dia memang iseng membuka profileku. Tapi dia tertarik pada profileku dan tertarik untuk mengenalku lebih jauh. Well, dia memang membutuhkan waktu seminggu untuk akhirnya mengontakku duluan, tapi yang paling penting adalah dia ingin mengenalku lebih jauh. Apalah. Semua alasan jadi tidak begitu penting lagi, yang penting aku bisa mengakhiri penderitaan menjadi secret admirer tanpa perlu khawatir gak ditanggapi.
.:: what a cheesy story, baby :p ::.
I’m almost twenty five and I marvel at someone furtively.
Jaman menjadi pengagum rahasia, atau bahasa kerennya: secret admirer, terakhir kualami satu dekade lalu. Masa-masa berseragam putih biru, diam-diam naksir kakak kelas yang ganteng, pintar dan populer tanpa berani menunjukan apalagi mengungkapkan perasaan itu pada sang idola. Paling banter hanya mampu curhat pada sahabat dan blushing setengah mati lalu cengar-cengir ketika berpapasan dengannya. Tapi rasanya sakit ketika idolaku itu tiba-tiba jadian dengan perempuan lain tanpa sempat kutunjukan kalau aku menyukainya. Rasa sesal, kecewa, dan patah hati jadi satu. Dan perasaan itu sangat menyiksa. Maka semenjak saat itu aku berikrar, tidak akan pernah lagi jadi secret admirer. Kalau memang suka, setidaknya harus berani menunjukan.
Sepuluh tahun semenjak masa itu, aku tak lagi terlalu malu untuk menunjukan perhatian pada orang yang kusukai, dan tak jarang juga perhatianku berbalas. Atau paling nggak, bisa bertegur sapa dan berteman. Tapi kejadian pagi itu mengubah segalanya. Ada yang berbeda ketika kubuka account friendsterku dan melihat ke bagian who’s viewed me. Ada Ramadhansyah disana. Ramadhansyah, atau Rama, seniorku jaman kuliah, melihat profileku. Kenapa, ya?
Itu pertanyaan yang pertama kali muncul. Aku dan Rama tidak terlalu akrab saat kuliah. Kami kenal di presidium fakultas dan hanya ngobrol saat rapat saja, itupun basa-basi seperlunya. Aku tidak pernah berniat untuk terlalu berakrab-akrab dengannya. He’s out of my league. Rama seingatku adalah mahasiswa yang luar biasa cerdas dengan IPK nyaris empat, sementara aku cuma mahasiswi biasa-biasa saja dengan IPK yang standar-standar saja juga. Dan satu hal yang membuatku tidak terlalu tertarik untuk banyak ngobrol dengannya adalah sifat idealis dan perfeksionisnya. Setiap kalimatnya, menurutku, terdengar kaku dan tampak disusun baik-baik sebelum diucapkan.
Iseng ku klik namanya dan masuklah aku ke profilenya. Hey, hey. Ada perasaan aneh saat aku melihat primary picturenya. Tampak samping dengan rambut berantakan, memakai sweater bertuliskan Middlesex University, tampak sedang mengerjakan sesuatu di depan komputer. Mukanya serius, but I have to admit he’s kinda cute in that picture. Dan kacamata half frame yang dia pakai membuat wajahnya makin terlihat cerdas. Hum, I love cute guys that looks smart. And all the sudden, I feel butterflies I my stomach. Did I just blush? Kugelengkan kepalaku.
Sadar Sya, kamu ga mungkin naksir laki-laki ini hanya karena melihat fotonya.
Lalu aku nyengir, still with the butterflies in my stomach. Oh no, blushing lalu cengar-cengir? Kugelengkan lagi kepalaku kuat-kuat dan menutup profile Rama.
Entah kenapa seharian tadi aku malah kepikiran terus Rama. Kenapa Rama melihat profileku?
Iseng aja kali, Sya. No special intention.
Berulang-ulang kuingatkan diriku untuk gak GR. Tapi makin lama kepenasaranku malah bertambah. Malam harinya kubuka kembali account friendsterku dan kembali masuk ke profile Rama. Melihat primary picture nya masih memberikan sensasi yang sama seperti yang kurasakan tadi pagi. Iseng ku baca profilenya. Hanya sekedar ingin tau keadaan dan keberadaan bapak yang satu itu saat ini. Hmmm, rupanya dia sekarang sedang mengambil gelar master di Middlesex University, Inggris (that explains the sweater). Yes, he’s so out of my league. Dari barisan kata-kata yang dia tulis di profilenya aku melihat perubahan di diri Rama. Kalimat-kalimatnya terlihat lebih santai dan ‘ramah’, meskipun tetap terlihat cerdas. Berbeda dengan kalimat-kalimat yang biasa dia ucapkan di masa kuliah dulu. Dan aku makin mengagumi Rama. Lalu aku blushing lagi, dilanjutkan dengan cengar-cengir lagi. Ahhh, ini sinting!
Asya, this is you’re consciousness speaking. Kamu gak boleh fall for this guy. Pertama, he’s way out of your league. Far beyond your league. Kedua, secara teknis dia hanya eksis di dunia maya. Well, oke kalian pernah saling mengenal. Tapi hanya selintas saja. Dan kecil kemungkinan dia masih ingat Asya Larasati itu yang mana. Soal kenapa dia melihat profile kamu, jangan terlalu hiperbolis. Iseng. Itu jawaban paling logis untuk kepenasaran dan ke GR-an mu yang berlebihan.
Aku menghela nafas. Yeah, ga usah terlalu dibesar-besarkan.
Semenjak perdebatan dengan suara hati tempo hari, aku bukannya melupakan Rama. Tapi kepenasaranku makin hari makin menggila. Aku tiap hari membuka profilenya. Membaca testimonial-testimonial untuknya. Merasa cemburu ketika ada perempuan yang memberi komentar yang bernada akrab untuknya, dan makin jatuh cinta setiap melihat foto-fotonya. Belum lagi ketika aku membaca blognya. Cerita-ceritanya tentang kuliah dan kesehariannya membuat aku makin ingin terlibat dalam kehidupannya. Sekali lagi, ini sinting. Aku memang selama ini berharap menemukan lelaki cerdas, tapi jatuh cinta pada seseorang yang ada di ujung lain dunia dan terlebih lagi kemungkinan besar tidak ingat siapa diriku benar-benar tidak masuk akal. Parahnya, aku kembali ke masa sepuluh tahun lalu. Masa-masa menjadi secret admirer. Hanya berani mencintai dari jauh. Pernah aku memaksa memberanikan diri menyapa Rama lewat message. Tapi lalu kubatalkan. Entah kenapa aku merasa tak pantas untuk Rama. Apalagi tampaknya sekarang Rama punya teman-teman baru yang sama pintarnya dan mereka semua sedang mengambil S2 di luar negeri. Sementara aku masih mencoba meniti karir di ibukota berbekal gelar S1 tanpa ada rencana pasti kapan mau melanjutkan sekolah. Aku juga takut Rama tidak mempedulikan message ku dan tidak pernah membalas message ku sampai kapanpun. Itu yang membuatku sangat takut untuk membuat kontak duluan dengan Rama. Pendeknya, aku kembali merasakan perasaan jaman SMP dulu.
Delapan hari berlalu semenjak aku jatuh cinta pada Rama. Baru delapan hari, sih. Tapi rasanya sudah sangat menyiksa. Cinta bertepuk sebelah tangan masih mending. Ini jatuh cinta tanpa tahu apakah cintanya berbalas atau tidak. Plus, tak ada keberanian untuk mencari tahu jawabannya. Aku teringat janjiku untuk tidak lagi menjadi secret admirer.
Tapi ini berbeda..
Apa bedanya?
Dia jauh di luar jangkauanku..
Dulu juga waktu SMP kamu merasakan hal yang persis sama kan?
Iya sih, tapi..
Tinggal sapa dia. Kalau dia tidak membalas, berarti dia tidak tertarik. Kalau membalas, mungkin dia memang suka juga padamu, atau pahit-pahitnya kalian bisa berteman.
…
Ayo Asya, jangan berfikir terlalu lama. Kamu akan makin tersiksa.
…
Daripada besok kamu membuka profilenya dan statusnya sudah berubah menjadi In A Relationship tanpa kamu pernah berani menyapanya?
Aaaarghh! Baiklah.
Suara hatiku memang kadang-kadang plinplan. Tempo hari dia mati-matian melarangku untuk tertarik lebih jauh pada Rama, tapi hari ini dia malah memaksaku menuntaskan kepenasaran. Dan kalau sudah terlibat perdebatan dengan suara hati, seperti biasa, aku pasti kalah.
Kubuka account friendsterku dan bersiap menulis message untuk Rama. Tapi icon new message menyala, artinya ada pesan baru untukku. Ku klik icon itu. Apa yang kutemukan di inbox membuatku merasa terkena serangan stroke ringan. Ku klik di bagian subject pesan dan muncullah barisan kalimat yang buatku seperti puisi paling indah yang pernah kubaca.
From: Ramadhansyah Maulana
Subject: hi, there!
Message:
Hai hai..
Seminggu lalu gue iseng liat-liat friendlist gue dan menemukan nama Asya disana. Jujur, gue agak lupa ini Asya siapa. Hehe. Terus iseng gue klik, baru deh gue inget kalau loe junior gue pas S1 dulu. Your profile is interesting, Sya. Tapi lagi-lagi gue harus jujur, I don’t remember much about you. Hehe. So, can we start all over again?
Oke dimulai dengan:
Halo, gue Rama. Sejurusan sama loe waktu S1, tapi gue setaun diatas loe. Sekarang gue lagi ambil master komunikasi di Inggris.
Well, it’s now your turn to tell me about yourself. Dan setelah itu semoga kita bisa banyak berbagi cerita. Write me back ya.
Rama.
Hmmm. Jadi dia memang iseng membuka profileku. Tapi dia tertarik pada profileku dan tertarik untuk mengenalku lebih jauh. Well, dia memang membutuhkan waktu seminggu untuk akhirnya mengontakku duluan, tapi yang paling penting adalah dia ingin mengenalku lebih jauh. Apalah. Semua alasan jadi tidak begitu penting lagi, yang penting aku bisa mengakhiri penderitaan menjadi secret admirer tanpa perlu khawatir gak ditanggapi.
.:: what a cheesy story, baby :p ::.
2007-03-20
Halooooo.. Bumi kepada - well- the little girl inside her box!!!
Baby, you don't know me. AT ALL. Don't dare to say you know what I've been through. And hearing about me from someone who's been telling me lies and fooling me all the time is not what I can call 'know someone'. I don't know what he's been telling you about me. But some of them might be said just to cover his a**. Here's some advice for you: don't trust a man too much. See from another perspective. Think the way man thinks. Maybe you need to write this advice down, cuz you might need it someday.
Cupcake, I don't know you either. So I don't want to judge you. I won't. TRUST ME. And I never have the intention to hate you. I never even want to disturb your life.
I am the one who start this? Oh, please. Ask that sweetypiehunnybunny of yours. And how sorry he is now. But then again.. Nah, don't do that. He might be doing that 'covering a**' thing again. And at the end of it all, I might be the beyotch again.
So darling, grown up. Finish your own problem alone with your babyboo. Count me out. As he's fully yours now.
I can be mean if I want to. But I chose not too. At first I try to ignore everything and be quiet *since I have many many things that are more important than your love life*. But at some point, even I have my own limit. I am not that shallow.
And oh yeah, I'm so over that sweetypiehunnybunny of yours. Please. You're the one who should move on and forget everything about what had happen between me and him, I guess.
Baby, you don't know me. AT ALL. Don't dare to say you know what I've been through. And hearing about me from someone who's been telling me lies and fooling me all the time is not what I can call 'know someone'. I don't know what he's been telling you about me. But some of them might be said just to cover his a**. Here's some advice for you: don't trust a man too much. See from another perspective. Think the way man thinks. Maybe you need to write this advice down, cuz you might need it someday.
Cupcake, I don't know you either. So I don't want to judge you. I won't. TRUST ME. And I never have the intention to hate you. I never even want to disturb your life.
I am the one who start this? Oh, please. Ask that sweetypiehunnybunny of yours. And how sorry he is now. But then again.. Nah, don't do that. He might be doing that 'covering a**' thing again. And at the end of it all, I might be the beyotch again.
So darling, grown up. Finish your own problem alone with your babyboo. Count me out. As he's fully yours now.
I can be mean if I want to. But I chose not too. At first I try to ignore everything and be quiet *since I have many many things that are more important than your love life*. But at some point, even I have my own limit. I am not that shallow.
And oh yeah, I'm so over that sweetypiehunnybunny of yours. Please. You're the one who should move on and forget everything about what had happen between me and him, I guess.
2007-01-16
____
W h y l o n e l y. L o n e l y.
I enjoy your attention. But it makes me weaker. I’m getting scared of falling again. Because each time you’re away, I always feel lonely. I’m tired of guessing.
I just need to feel that someone’s really there to take care of me. To watch over me. Maybe you’re still thinking. And I’m still waiting for the sign.
Meanwhile, I’ll try to fight this lonely feeling.
W h y l o n e l y. L o n e l y.
I enjoy your attention. But it makes me weaker. I’m getting scared of falling again. Because each time you’re away, I always feel lonely. I’m tired of guessing.
I just need to feel that someone’s really there to take care of me. To watch over me. Maybe you’re still thinking. And I’m still waiting for the sign.
Meanwhile, I’ll try to fight this lonely feeling.
2007-01-02
| Your Five Factor Personality Profile |
You have medium extroversion.You're not the life of the party, but you do show up for the party.Sometimes you are full of energy and open to new social experiences.But you also need to hibernate and enjoy your "down time." Conscientiousness: You have low conscientiousness.Impulsive and off the wall, you don't take life too seriously.Unfortunately, you sometimes end up regretting your snap decisions.Overall, you tend to lack focus, and it's difficult for you to get important things done. Agreeableness: You have medium agreeableness.You're generally a friendly and trusting person.But you also have a healthy dose of cynicism.You get along well with others, as long as they play fair. Neuroticism: You have medium neuroticism.You're generally cool and collected, but sometimes you do panic.Little worries or problems can consume you, draining your energy.Your life is pretty smooth, but there's a few emotional bumps you'd like to get rid of. Openness to experience: Your openness to new experiences is high.In life, you tend to be an early adopter of all new things and ideas.You'll try almost anything interesting, and you're constantly pushing your own limits.A great connoisseir of art and beauty, you can find the positive side of almost anything. |
The Five Factor Personality Test
2006-12-01
Boys Will Be Boys
Hey, lelakiku! Aku ingin bicara denganmu. Bukankah sudah kukatakan dalam smsku yang kukirimkan padamu sehabis makan siang tadi, bahwa aku merindukanmu. Rindu berdiskusi denganmu. Rindu menghabiskan berjam-jam dalam obrolan bermutu atau debat kusir. Apapun. Aku rindu berbagi denganmu.
Maka alihkan pandanganmu dari depan layar notebook baru yang kau beli minggu lalu seharga $1400 itu. Angkat jari-jarimu dari tuts keyboard dan belailah rambutku. Bukankah kau dulu sering berkata bahwa membelai rambutku bisa membuatmu kecanduan? Yah, aku cuma bisa berfikir positif, efek candunya sudah menghilang mungkin.
“Babe, ngobrol yuk”, kataku dengan suara semanja mungkin.
“Ya ngomong aja. Aku dengerin, kok”
Sial, candu suara manja juga efeknya sudah pudar.
“Kamu jangan ngetik terus dong”, masih dengan suara manja.
“Hmm.. Bentar ya. Nanggung, nih”
(Dalam hati) “Aaaargh!”
Entah apa yang kau tulis disitu. Report bulanan? Pekerjaan yang tertunda? Atau kau hanya begitu mengagumi kecanggihan mainan barumu? Mungkin sekarang dalam hati kau sedang menggumamkan lagu Can’t Take My eyes Off Of You. You’re just too good to be true, can’t take my eyes off of you..
Sampai akhirnya empatpuluhdelapan menit kemudian (yes I really do count!), matamu masih terpaku pada layar, dan jarimu masih asyik pencet sana-pencet sini. Mungkin juga masih sambil menggumamkan lagu Can’t Take My Eyes Off Of You. Dan aku masih dengan sabar menantimu untuk mulai berbicara denganku.
Tigabelas menit setelah empatpuluhdelapan menit yang membosankan. Keadaannya masih sama. Mungkin aku harus menjalankan trik pura-pura menyerah.
“Babe, aku pulang ya?”, sambil bangkit dan meraih tas.
“Kok?”, tanpa menoleh sedikitpun.
“Kamunya juga sibuk”, dengan suara datar.
Yes. Dia memandangku dan jarinya berhenti mengetik.
“Ngambek ya?”
“Gak kok. Cuma.. Kamu kayanya lagi sibuk banget aja. Aku ga mau ganggu”, sambil membuang muka dengan dramatis.
Yes lagi. Dia bangkit dan merangkulku. Lalu mencium keningku.
“Hmmm. Maaf ya sayang”
“Gak apa-apa kok. Aku ngerti” (yang sebenarnya ingin dikatakan adalah:”Aku tau kamu sibuk, tapi kan aku udah ampir sejam sabar nungguin kamu. Sekarang berenti kerja dan kita ngobrol yuk. Aku kan kangen sama kamu”)
“Bener, kamu maafin aku? Ga marah?”
Aku mengangguk manja sambil memberikan senyum paling manis.
Triple yes. Dia memelukku lebih erat.
“Ya udah. Kamu naik taksi gak apa-apa kan sayang? Aku emang lagi sibuk banget. Kalau kamu mau ku antar paling malem banget”
(Dalam hati) “HAAAAHHHHH?????!!!!!!!”
“Aku antar sampai lift aja ya?”
“Ga usah. Aku sendiri aja. Dah”
“Dah, Babe”, dengan nada tanpa dosa.
Dan akupun mengomel sepanjang perjalanan.
Dasar lekong.
Hey, lelakiku! Aku ingin bicara denganmu. Bukankah sudah kukatakan dalam smsku yang kukirimkan padamu sehabis makan siang tadi, bahwa aku merindukanmu. Rindu berdiskusi denganmu. Rindu menghabiskan berjam-jam dalam obrolan bermutu atau debat kusir. Apapun. Aku rindu berbagi denganmu.
Maka alihkan pandanganmu dari depan layar notebook baru yang kau beli minggu lalu seharga $1400 itu. Angkat jari-jarimu dari tuts keyboard dan belailah rambutku. Bukankah kau dulu sering berkata bahwa membelai rambutku bisa membuatmu kecanduan? Yah, aku cuma bisa berfikir positif, efek candunya sudah menghilang mungkin.
“Babe, ngobrol yuk”, kataku dengan suara semanja mungkin.
“Ya ngomong aja. Aku dengerin, kok”
Sial, candu suara manja juga efeknya sudah pudar.
“Kamu jangan ngetik terus dong”, masih dengan suara manja.
“Hmm.. Bentar ya. Nanggung, nih”
(Dalam hati) “Aaaargh!”
Entah apa yang kau tulis disitu. Report bulanan? Pekerjaan yang tertunda? Atau kau hanya begitu mengagumi kecanggihan mainan barumu? Mungkin sekarang dalam hati kau sedang menggumamkan lagu Can’t Take My eyes Off Of You. You’re just too good to be true, can’t take my eyes off of you..
Sampai akhirnya empatpuluhdelapan menit kemudian (yes I really do count!), matamu masih terpaku pada layar, dan jarimu masih asyik pencet sana-pencet sini. Mungkin juga masih sambil menggumamkan lagu Can’t Take My Eyes Off Of You. Dan aku masih dengan sabar menantimu untuk mulai berbicara denganku.
Tigabelas menit setelah empatpuluhdelapan menit yang membosankan. Keadaannya masih sama. Mungkin aku harus menjalankan trik pura-pura menyerah.
“Babe, aku pulang ya?”, sambil bangkit dan meraih tas.
“Kok?”, tanpa menoleh sedikitpun.
“Kamunya juga sibuk”, dengan suara datar.
Yes. Dia memandangku dan jarinya berhenti mengetik.
“Ngambek ya?”
“Gak kok. Cuma.. Kamu kayanya lagi sibuk banget aja. Aku ga mau ganggu”, sambil membuang muka dengan dramatis.
Yes lagi. Dia bangkit dan merangkulku. Lalu mencium keningku.
“Hmmm. Maaf ya sayang”
“Gak apa-apa kok. Aku ngerti” (yang sebenarnya ingin dikatakan adalah:”Aku tau kamu sibuk, tapi kan aku udah ampir sejam sabar nungguin kamu. Sekarang berenti kerja dan kita ngobrol yuk. Aku kan kangen sama kamu”)
“Bener, kamu maafin aku? Ga marah?”
Aku mengangguk manja sambil memberikan senyum paling manis.
Triple yes. Dia memelukku lebih erat.
“Ya udah. Kamu naik taksi gak apa-apa kan sayang? Aku emang lagi sibuk banget. Kalau kamu mau ku antar paling malem banget”
(Dalam hati) “HAAAAHHHHH?????!!!!!!!”
“Aku antar sampai lift aja ya?”
“Ga usah. Aku sendiri aja. Dah”
“Dah, Babe”, dengan nada tanpa dosa.
Dan akupun mengomel sepanjang perjalanan.
Dasar lekong.
‘Menghapus’ Masa Lalu
ERIN
(Sedang mengecek file-file lama yang perlu dihapus dari flashdisc)
“Eh Lan, loe udah pernah liat Ardi mantan gue belum sih?”
LANA
“Udah, kali. Kan udah pernah nebeng mobilnya”
ERIN
“Oh iya ya? Ga sih, soalnya gua masih ada foto-fotonya. Kali-kali loe mau liat”
LANA
“Hah? Masih loe simpen? Ngapain sih?”
ERIN
“Ini juga mau gue apus. Ada di flashdisc gue. Loe tau sendiri, gue kan paling males ngecek-ngecek flashdisc dan ngapusin file-file lama. Mumpung sempet”
LANA
“Eh gue juga mau apus foto-foto si Danang, mantan gue itu lho. Ada di flashdisc gue”
ERIN
“Ya udah. Bentar ya”
(Mencabut flashdisc tanpa menghapus foto-foto yang katanya mau dihapus)
LANA
(Memasang flashdisc miliknya. Membuka folder berisi foto-foto sang mantan)
“Ya ampun, gue masih punya foto pas bareng Danang ke Ragunan? Itu kan udah lama banget”
ERIN
“Hmmm.. Banyak juga ya fotonya?”
LANA
(Sambil mencermati semua foto-foto yang rencananya mau dihapus)
“Lumayan”
ERIN
“Eh ntar gue mau cek kerjaan yang tadi gue save di laptop ini ya”
LANA
“Oh ya udah, cek aja”
(Mencabut flashdisc juga tanpa menghapus foto-foto yang katanya mau dihapus)
Dan foto-foto itu pun tetap ada di dalam gadget kecil berkapasitas masing-masing 1 giga itu.
Dasar perempewi.
ERIN
(Sedang mengecek file-file lama yang perlu dihapus dari flashdisc)
“Eh Lan, loe udah pernah liat Ardi mantan gue belum sih?”
LANA
“Udah, kali. Kan udah pernah nebeng mobilnya”
ERIN
“Oh iya ya? Ga sih, soalnya gua masih ada foto-fotonya. Kali-kali loe mau liat”
LANA
“Hah? Masih loe simpen? Ngapain sih?”
ERIN
“Ini juga mau gue apus. Ada di flashdisc gue. Loe tau sendiri, gue kan paling males ngecek-ngecek flashdisc dan ngapusin file-file lama. Mumpung sempet”
LANA
“Eh gue juga mau apus foto-foto si Danang, mantan gue itu lho. Ada di flashdisc gue”
ERIN
“Ya udah. Bentar ya”
(Mencabut flashdisc tanpa menghapus foto-foto yang katanya mau dihapus)
LANA
(Memasang flashdisc miliknya. Membuka folder berisi foto-foto sang mantan)
“Ya ampun, gue masih punya foto pas bareng Danang ke Ragunan? Itu kan udah lama banget”
ERIN
“Hmmm.. Banyak juga ya fotonya?”
LANA
(Sambil mencermati semua foto-foto yang rencananya mau dihapus)
“Lumayan”
ERIN
“Eh ntar gue mau cek kerjaan yang tadi gue save di laptop ini ya”
LANA
“Oh ya udah, cek aja”
(Mencabut flashdisc juga tanpa menghapus foto-foto yang katanya mau dihapus)
Dan foto-foto itu pun tetap ada di dalam gadget kecil berkapasitas masing-masing 1 giga itu.
Dasar perempewi.
Tempat Sampah
Dan disitulah akhirnya ‘kami’ tergeletak. Di dasar tempat sampah di pojok kamar.
Enam tahun penuh tawa. Enam tahun penuh air mata. Enam tahun penuh cerita. Enam tahun penuh derita. Hubungan berdarah-darah, kalau boleh meminjam terminologi salah seorang sahabatku. Hubungan berdarah-darah yang, bagaimanapun, sarat makna.
Sempat terfikirkan memang ‘kami’ akan berakhir. Tapi waktu itu yang terlintas adalah, semua hanya akan mengendap di dasar hati saja. Disembunyikan baik-baik, dan disimpan diam-diam. Tidak dicampakkan ke tempat sampah. Bahkan sekarang keadaannya adalah bukan cuma dicampakan, tapi dicampakan dengan semena-mena.
‘Kami’ memang tak pernah mulus, tapi rasanya ‘kami’ juga tidak seberantakan itu sampai pantas disebut sampah. Sebenarnya keputusan untuk mengakhiri ‘kami’ diantara plastik bekas kerupuk kulit, botol kosong vitamin c dosis tinggi, dan kertas pembungkus sate padang sisa makan malam memang terasa agak berlebihan. Tapi kenyataannya, itulah yang terjadi. Mungkin ini terjadi karena aku benar-benar kecewa. Marah. Merasa semuanya tidak adil. Dan terlalu lelah untuk berfikir dua kali mengenai keputusan ini. Tapi yang pasti memang semuanya harus benar-benar berakhir. Tak ada lagi ‘kami’. Bahkan tidak pula ‘kami’ yang saling berteman. Jadi tempat sampah mungkin memang tempat yang paling pas untuk melenyapkan ‘kami’.
Dan aku menerimanya. Dengan helaan nafas dan senyum kecil, “Baiklah”. Kuyakinkan hatiku. So long, then.
Jadi, disitulah foto-foto, kartu ucapan, kotak pembungkus kado, note-note penuh pesan cinta, dan apapun yang mewakili ‘kami’, terserak. Mungkin ada baiknya hatiku kulempar juga kedalam sana. Tapi tidak, ah. Aku masih butuh hatiku untuk bisa menjalani semuanya besok, lusa, dan seterusnya dan seterusnya.
Dan demi menghindari ‘kami’ kembali ke tempatnya semula keesokan hari, malam itu juga kukosongkan si tempat sampah di bak sampah besar di halaman rumahku dengan diiringi doa:”Semoga setelah ini, aku tak perlu lagi membuang kisah cintaku ke tempat sampah”. Amin.
Dan disitulah akhirnya ‘kami’ tergeletak. Di dasar tempat sampah di pojok kamar.
Enam tahun penuh tawa. Enam tahun penuh air mata. Enam tahun penuh cerita. Enam tahun penuh derita. Hubungan berdarah-darah, kalau boleh meminjam terminologi salah seorang sahabatku. Hubungan berdarah-darah yang, bagaimanapun, sarat makna.
Sempat terfikirkan memang ‘kami’ akan berakhir. Tapi waktu itu yang terlintas adalah, semua hanya akan mengendap di dasar hati saja. Disembunyikan baik-baik, dan disimpan diam-diam. Tidak dicampakkan ke tempat sampah. Bahkan sekarang keadaannya adalah bukan cuma dicampakan, tapi dicampakan dengan semena-mena.
‘Kami’ memang tak pernah mulus, tapi rasanya ‘kami’ juga tidak seberantakan itu sampai pantas disebut sampah. Sebenarnya keputusan untuk mengakhiri ‘kami’ diantara plastik bekas kerupuk kulit, botol kosong vitamin c dosis tinggi, dan kertas pembungkus sate padang sisa makan malam memang terasa agak berlebihan. Tapi kenyataannya, itulah yang terjadi. Mungkin ini terjadi karena aku benar-benar kecewa. Marah. Merasa semuanya tidak adil. Dan terlalu lelah untuk berfikir dua kali mengenai keputusan ini. Tapi yang pasti memang semuanya harus benar-benar berakhir. Tak ada lagi ‘kami’. Bahkan tidak pula ‘kami’ yang saling berteman. Jadi tempat sampah mungkin memang tempat yang paling pas untuk melenyapkan ‘kami’.
Dan aku menerimanya. Dengan helaan nafas dan senyum kecil, “Baiklah”. Kuyakinkan hatiku. So long, then.
Jadi, disitulah foto-foto, kartu ucapan, kotak pembungkus kado, note-note penuh pesan cinta, dan apapun yang mewakili ‘kami’, terserak. Mungkin ada baiknya hatiku kulempar juga kedalam sana. Tapi tidak, ah. Aku masih butuh hatiku untuk bisa menjalani semuanya besok, lusa, dan seterusnya dan seterusnya.
Dan demi menghindari ‘kami’ kembali ke tempatnya semula keesokan hari, malam itu juga kukosongkan si tempat sampah di bak sampah besar di halaman rumahku dengan diiringi doa:”Semoga setelah ini, aku tak perlu lagi membuang kisah cintaku ke tempat sampah”. Amin.
2006-11-21
WAKE UP AND SMELL THE COFFEE
I was thinking..
I used to love this man. Really. He was what I lived for. Even until few days ago, I still think that he was one of the best I’ve ever had. But now, everything is just an old dreary story I don’t even want to hear anymore.
My consciousness began on a Saturday evening. His words, made me mad and laugh at the same time. I know he never understands my feelings. Not back then, not at the present. But I never thought that he sees me that low. How can he came up with those words? Thinking that I was going to meddle with his love life? No. Sorry, but no. I have better things to do.
He was always been irrational. But I never thought that he is so shallow.
Wake up and smell the coffee, you are not that special anymore.
[this is what happen when you’re trying to be nice to a red nose retardo]
I was thinking..
I used to love this man. Really. He was what I lived for. Even until few days ago, I still think that he was one of the best I’ve ever had. But now, everything is just an old dreary story I don’t even want to hear anymore.
My consciousness began on a Saturday evening. His words, made me mad and laugh at the same time. I know he never understands my feelings. Not back then, not at the present. But I never thought that he sees me that low. How can he came up with those words? Thinking that I was going to meddle with his love life? No. Sorry, but no. I have better things to do.
He was always been irrational. But I never thought that he is so shallow.
Wake up and smell the coffee, you are not that special anymore.
[this is what happen when you’re trying to be nice to a red nose retardo]
2006-11-17
MENUNTASKAN KEPENASARAN
Kalau waktu itu gue nembak loe, loe terima ga?
*agak terkejut dengan pertanyaan ajaib itu*
Nggak. Karena gue tau ujung-ujungnya loe ga bisa ninggalin dia :).. Betul?
*menunggu*
Belum tentu juga. Kalau waktu itu loe bisa bikin gue lebih happy, why not.
*what the...?*
Well.. Yang lalu biarlah berlalu mari kita jelang hari baru.. Amin.. Hehe..
*(maybe) he's smiling*
Amen to that.
[ Selamat menempuh hidup baru. Kota baru. Kerjaan baru. Anak baru. ]
Kalau waktu itu gue nembak loe, loe terima ga?
*agak terkejut dengan pertanyaan ajaib itu*
Nggak. Karena gue tau ujung-ujungnya loe ga bisa ninggalin dia :).. Betul?
*menunggu*
Belum tentu juga. Kalau waktu itu loe bisa bikin gue lebih happy, why not.
*what the...?*
Well.. Yang lalu biarlah berlalu mari kita jelang hari baru.. Amin.. Hehe..
*(maybe) he's smiling*
Amen to that.
[ Selamat menempuh hidup baru. Kota baru. Kerjaan baru. Anak baru. ]
2006-11-10
COME AND MAKE ME FALL IN LOVE WITH YOU..
Yang paling menyiksa adalah, bukan patah hati, atau cinta bertepuk sebelah tangan. Bukan berpisah dengan seseorang yang paling dicintai. Bukan pula dikhianati kekasih.
Yang paling menyiksa adalah perasaan rindu akan jatuh cinta, rindu akan memberikan perhatian pada seseorang, rindu untuk merindukan seseorang. Tanpa ada seorangpun untuk berbagi perasaan yang sama.
Yang paling menyiksa adalah, bukan patah hati, atau cinta bertepuk sebelah tangan. Bukan berpisah dengan seseorang yang paling dicintai. Bukan pula dikhianati kekasih.
Yang paling menyiksa adalah perasaan rindu akan jatuh cinta, rindu akan memberikan perhatian pada seseorang, rindu untuk merindukan seseorang. Tanpa ada seorangpun untuk berbagi perasaan yang sama.
2006-11-06
2006-10-02
AKU, LAKI-LAKI, MANDUL
Aku dulu suka menulis. Apa saja aku tulis. Keseharianku, kisah cintaku, cerita fiksi, taman, langit, sungai, puisi, lagu. Apa saja bisa kutulis.
Tapi sekarang tidak lagi. Keseharianku hanya berupa rutinitas membosankan yang tidak menarik untuk ditulis. Kenyataan sekarang jauh lebih rumit sehingga membuat cerita fiksi jadi terlalu mengada-ada. Taman, langit, apalagi sungai, sudah tidak ada yang istimewa lagi. Kata-kata ‘mahal’ untuk puisi dan lagu-lagu yang biasanya mengalir begitu saja dari otek ke ujung jari-jariku yang menggenggam pena kini menguap entah kemana. Dan kisah cinta.. Kisah cinta apa?
Teman-teman yang dulu selalu berebutan menikmati tulisanku, drai sekedar coret-coretan curhat cinta monyet jaman SMP, sampai novel pendek yang tak pernah diterbitkan, masih selalu ribut menanyakan tulisanku. Mereka rindu dihibur tulisanku, kata mereka. Dan aku selalu menjawab, sekarang aku terlalu sibuk untuk menulis. Benarkah aku terlalu sibuk untuk menulis sementara di jaman kuliah dulu, bahkan di sela-sela dosen yang sedang menerangkan, aku mampu merampungkan sebuah cerpen?
Mari, mari berkumpul dan akan kuceritakan alasan sesungguhnya. Aku mandul. Betul, aku mandul. M A N D U L. Semenjak setahun lalu aku mandul. Akupun sangat ingin menulis lagi sebetulnya. Dan akupun sangat rindu menghibur diri dengan tulisan-tulisanku. Tapi tiap sebuah ide muncul dan aku memegang pena, yang bisa kutuliskan hanyalah empat huruf saja. R e g a. Kupejamkan mata. Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal dan kugelengkan kuat-kuat. Masih tetap hanya empat huruf yang bisa kutuliskan. R e g a. Kali ini disertai helaan nafas panjang.
Empat huruf itulah yang telah membuatku mandul. Merenggut kemampuan melahirkan tulisan-tulisan penuh makna dari diriku. Membunuh ide-ideku bahkan sebelum mereka dilahirkan.
Rega dan kata-kata ‘Selamat tinggal’ nya yang membuat semua kisahku tidak lagi istimewa untuk ditulis.
Kalau teman-temanku tau ini, mereka sudah hampir dipastikan akan mengataiku ‘cemen’. Masa bodoh. Tapi menulis memang harus drai hati. Dan hatiku mati ketika katanya tak ada lagi cinta untukku.
Aku ingin menulis lagi. Lebih dari empat huruf. Kalau mereka rindu, apalagi aku. Tapi aku tak bisa sendiri. Maka aku mencari degup yang bisa menggerakan lagi hatiku. Melupakan luka. Dan menghapus Rega selamanya dari kertas-kertas bloc note-ku.
Kemudian aku berhenti berusaha menulis dan mulai merenung..
Mungkin yang kubutuhkan adalah seseorang yang menghubungkanku dengan sisi lain, dunia lain. Bagian lain dimana si empat huruf itu tidak eksis. Seorang teman, mungkin. Atau seorang kekasih. Atau apapun.
Atau mungkin aku hanya butuh diriku sendiri untuk bisa terhubung dengan dunia itu. Baiklah. Sendiri lagi, lagi-lagi sendirian. Sounds familiar, huh?
Dan aku merenung lebih lama lagi..
Aku dangkal, Tuhanku. Ampuni aku. Tentu kehadiran laki-laki lain bukan jawaban dari segala pertanyaan di benaku. Dan pastinya bukan akhir dari pencarianku. Aku hanya perlu memahami. Bahwa hidup ini adalah tentang kesabaran.
Aku dulu suka menulis. Apa saja aku tulis. Keseharianku, kisah cintaku, cerita fiksi, taman, langit, sungai, puisi, lagu. Apa saja bisa kutulis.
Tapi sekarang tidak lagi. Keseharianku hanya berupa rutinitas membosankan yang tidak menarik untuk ditulis. Kenyataan sekarang jauh lebih rumit sehingga membuat cerita fiksi jadi terlalu mengada-ada. Taman, langit, apalagi sungai, sudah tidak ada yang istimewa lagi. Kata-kata ‘mahal’ untuk puisi dan lagu-lagu yang biasanya mengalir begitu saja dari otek ke ujung jari-jariku yang menggenggam pena kini menguap entah kemana. Dan kisah cinta.. Kisah cinta apa?
Teman-teman yang dulu selalu berebutan menikmati tulisanku, drai sekedar coret-coretan curhat cinta monyet jaman SMP, sampai novel pendek yang tak pernah diterbitkan, masih selalu ribut menanyakan tulisanku. Mereka rindu dihibur tulisanku, kata mereka. Dan aku selalu menjawab, sekarang aku terlalu sibuk untuk menulis. Benarkah aku terlalu sibuk untuk menulis sementara di jaman kuliah dulu, bahkan di sela-sela dosen yang sedang menerangkan, aku mampu merampungkan sebuah cerpen?
Mari, mari berkumpul dan akan kuceritakan alasan sesungguhnya. Aku mandul. Betul, aku mandul. M A N D U L. Semenjak setahun lalu aku mandul. Akupun sangat ingin menulis lagi sebetulnya. Dan akupun sangat rindu menghibur diri dengan tulisan-tulisanku. Tapi tiap sebuah ide muncul dan aku memegang pena, yang bisa kutuliskan hanyalah empat huruf saja. R e g a. Kupejamkan mata. Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal dan kugelengkan kuat-kuat. Masih tetap hanya empat huruf yang bisa kutuliskan. R e g a. Kali ini disertai helaan nafas panjang.
Empat huruf itulah yang telah membuatku mandul. Merenggut kemampuan melahirkan tulisan-tulisan penuh makna dari diriku. Membunuh ide-ideku bahkan sebelum mereka dilahirkan.
Rega dan kata-kata ‘Selamat tinggal’ nya yang membuat semua kisahku tidak lagi istimewa untuk ditulis.
Kalau teman-temanku tau ini, mereka sudah hampir dipastikan akan mengataiku ‘cemen’. Masa bodoh. Tapi menulis memang harus drai hati. Dan hatiku mati ketika katanya tak ada lagi cinta untukku.
Aku ingin menulis lagi. Lebih dari empat huruf. Kalau mereka rindu, apalagi aku. Tapi aku tak bisa sendiri. Maka aku mencari degup yang bisa menggerakan lagi hatiku. Melupakan luka. Dan menghapus Rega selamanya dari kertas-kertas bloc note-ku.
Kemudian aku berhenti berusaha menulis dan mulai merenung..
Mungkin yang kubutuhkan adalah seseorang yang menghubungkanku dengan sisi lain, dunia lain. Bagian lain dimana si empat huruf itu tidak eksis. Seorang teman, mungkin. Atau seorang kekasih. Atau apapun.
Atau mungkin aku hanya butuh diriku sendiri untuk bisa terhubung dengan dunia itu. Baiklah. Sendiri lagi, lagi-lagi sendirian. Sounds familiar, huh?
Dan aku merenung lebih lama lagi..
Aku dangkal, Tuhanku. Ampuni aku. Tentu kehadiran laki-laki lain bukan jawaban dari segala pertanyaan di benaku. Dan pastinya bukan akhir dari pencarianku. Aku hanya perlu memahami. Bahwa hidup ini adalah tentang kesabaran.
Subscribe to:
Posts (Atom)
